Mengenal Istilah “Comfort Food” Makanan yang Bisa Bikin Nyaman

Pernahkah kalian mendengar istilah Comfort Food? Apa itu Comfort Food? Comfort Food adalah sebutan untuk berbagai makanan yang dapat membuat para konsumennya merasa senang ketika mengonsumsinya. Perasaan nyaman yang dialami saat mengonsumsi makanan ini dipengaruhi oleh rasa, aroma, tekstur, serta kenangan tentang makanan tersebut. Menurut Currie (2010) comfort food dianggap sebagai makanan yang disertai dengan penunjang yang menyenangkan. Karena hal itu, mengonsumsi comfort food juga dapat membuat perasaan konsumennya menjadi lebih baik secara emosional. Pada penelitian yang dilakukan Janeta, et al (2018) juga mengungkapkan bahwa pada pemilihan makanan di sebuah restoran, orang-orang lebih memilih makanan yang membuat hati senang, relaks, dan mengatasi stres.

Di Indonesia, orang-orang menyukai makanan yang cenderung manis, berlemak, dan asin untuk dijadikan sebagai comfort food. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khairi, et al. (2021), bahwa stres dapat menyebabkan individu makan lebih banyak dengan kecenderungan yang lebih tinggi untuk makanan tinggi lemak dan tinggi gula yang biasa disebut comfort food. Tidak jarang pula orang yang menjadikan makanan yang berkaitan dengan masa lalu atau masa kecil sebagai comfort food mereka, hal tersebut biasanya dapat menumbuhkan perasaan rindu kampung halaman. Macam-macam comfort food yang umum dikonsumsi warga negara Indonesia diantaranya adalah bubur ayam, nasi goreng, bakso, mie instan, seblak, ayam geprek, es teh manis, boba milk tea, cokelat, es krim, dan lain-lain. Sedangkan di negara bagian barat, biasanya orang-orang menyukai makanan seperti pizza, mac and cheese, lasagna, french fries, apple pie, chicken soup, dan lainnya sebagai comfort food mereka.

Source: Pinterest

Pada dasarnya comfort food memang dapat membuat perasaan kita menjadi nyaman dan senang, serta comfort food juga dapat membuat kita ingin terus mengonsumsi makanan itu lagi dan lagi. Namun, perlu diketahui bahwa mengonsumsi comfort food secara berlebihan akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Comfort food sering diasumsikan sebagai makanan berkadar gula, lemak, dan garam tinggi, sehingga total kalori yang dikonsumsi cukup besar dan merujuk pada kegemukan. Selain itu, mengonsumsi gula secara berlebihan dapat menimbulkan potensi diabetes, dan mengonsumsi lemak berlebih dapat berpotensi menimbulkan penyakit kolesterol. Akan tetapi hal tersebut dapat dicegah dengan cara membatasi konsumsi makanan yang mengandung gula, lemak, dan garam serta menyesuaikan porsi makan.

Terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam memandang masakan rumah sebagai comfort food mereka. Pria cenderung menyukai masakan yang hangat, berlemak, dan makanan berat seperti makanan yang banyak mengandung karbohidrat. Hal ini dikarenakan makanan tersebut mengingatkan mereka dengan perasaan dimanja. Sementara para wanita lebih menyenangi makanan ringan seperti cokelat, es krim, jajanan kaki lima, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan mereka menganggap makanan tersebut tidak sulit untuk dibuat atau didapatkan dan mudah dibersihkan.

Comfort food merupakan makanan yang disenangi semua orang baik oleh kaum pria maupun wanita. Perasaan nyaman yang dirasakan ketika mengonsumsi comfort food membuat para konsumennya merasa ingin terus menikmati makanan tersebut terus menerus dan dalam jumlah yang banyak. Sebagian besar anak muda memiliki kecenderungan untuk memilih makanan berdasarkan perasaan (comfort of food) dibandingkan dengan orang tua (Rahman, et al., 2013). Akan tetapi hal itu tidak baik terhadap kesehatan karena dapat menimbulkan penyakit yang beresiko tinggi. Maka dari itu dianjurkan untuk mengonsumsi comfort food secukupnya saja, menghindari makanan yang beresiko menyebabkan penyakit, dan mengonsumsi makanan sehat yang baik untuk tubuh serta dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan.



REFERENSI

Anwar, C. R. (2016). Fast Food: Gaya Hidup dan Promosi Makanan Siap Saji. ETNOSIA: Jurnal Etnografi Indonesia, 54-65.

Currie, Janet., Vigna, Steffano D., Moretti, Enrico., & Pathania, Vikram. (2010). The Effect of Fast Food Restaurants on Obesity and Weight Gain. American Economis Journal: Economic Policy, 2, August, 32-63.

Janeta, A., Kristanti, M., & Santoso, S. O. (2018). Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan pada remaja di Surabaya. Jurnal Hospitality dan Manajemen Jasa, 6(1).

Khairi, R., Mulyani, E. Y., Nadiyah, N., Wahyuni, Y., & Palupi, K. C. (2021). Asupan Lemak dan Stres pada Masa Pandemi COVID-19 dengan Indeks Massa Tubuh Guru. Preventia: The Indonesian Journal of Public Health, 6(2), 80-87.

Rahman, S, A., Khattak, M, M, A, K., Mansor, N, R. (2013). Determinants of food choice among adults in an urban community. Nutrition & Food Science, Vol. 43 Iss 5 pp. 413-421 Review of Nutritin and Dietetics 33, 1-41.

Komentar